Minggu, 30 Juni 2013

BUAH KEJUJURAN

     Pada suatu hari ada seorang penebang kayu yang sedang menebangi cabang sebuah pohon yang melintang di atas sungai. Tiba-tiba kapaknya terjatuh ke sungai itu. Ketika ia mulai menangis, Malaikat menampakkan diri dan bertanya, “Mengapa kamu menangis?”
Si penebang kayu menjawab bahwa kapaknya telah terjatuh ke dalam sungai. Segera Sang Malaikat masuk ke dalam air dan muncul dengan sebuah kapak emas.

“Inikah kapakmu?” Malaikat bertanya.

“Bukan,” si penebang kayu menjawab.

Malaikat masuk kembali ke air dan muncul dengan kapak perak.

“Inikah kapakmu?” Malaikat bertanya lagi.

“Bukan,” si penebang kayu menjawab.

Sekali lagi Malaikat masuk ke air dan muncul dengan kapak besi.
“Inikah kapakmu?” Malaikat bertanya.

“Ya!” jawab si penebang kayu.

Malaikat sangat senang dengan kejujurannya dan memberikan ketiga kapak itu kepadanya. Si penebang kayu pulang ke rumahnya dengan hati bahagia. Beberapa waktu kemudian, si penebang kayu berjalan-jalan di sepanjang sungai dengan istrinya. Tiba-tiba sang istri terjatuh
ke dalam sungai. Ketika ia mulai menangis, Malaikat menampakkan diri dan bertanya, “Mengapa kamu menangis?”
Si penebang kayu menjawab bahwa istrinya telah terjatuh ke
dalam sungai. Segera Malaikat masuk ke dalam air dan muncul
dengan Cleopatra. “Inikah istrimu?”  Malaikat bertanya.
“Ya!” si penebang kayu menjawab, cepat.

Mendengar itu,  Malaikat menjadi sangat marah. “Kamu berbuat
curang! Aku akan mengutukmu!” tegur Malaikat .
Si penebang kayu segera menjawab, “Maafkan saya, ya Malaikat .
Ini hanya kesalahpahaman belaka. Kalau saya berkata
‘Bukan’ pada Clopatra, Engkau pasti akan muncul kembali dengan Ratu Interniti. Kalau saya juga berkata ‘Bukan’ kepadanya, pada akhirnya Engkau pasti akan muncul dengan istri saya, dan saya akan berkata ‘Ya’. Kemudian Engkau pasti akan memberikan ketiganya kepada saya.

“ Malaikat , saya adalah orang miskin. Saya tidak akan mampu
menghidupi mereka bertiga. Itu sebabnya saya menjawab ‘Ya’.”

Hmm… Kejujuran, kapan pun memang selalu membawa kisah yg manis.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Malaikat iseng, pasang jebakan betmen pula.

Manto Abu Ihsan mengatakan...

Ini cerata mengada2 ya

Unknown mengatakan...

Bagus banget nih cerita nya