Rabu, 30 Januari 2013

KISAH TUKANG KAYU

    Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya.
Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.
Dengan berat hati si tukang kayu pun menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati.
Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, “Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada.”

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.
Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita! Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan bijaksana.
Sebab kehidupanmu saat ini adalah akibat dari pilihanmu di masa lalu. Masa depanmu adalah hasil dari keputusanmu saat ini.

KISAH PEMUDA MISKIN

    Seorang Pemuda miskin mencintai seorang gadis kaya. Suatu hari Pemuda itu melamar si gadis.
Gadis itu berkata, "Dengar ya, gaji bulananmu sama dgn pengeluaran harianku..!

Haruskah aku menikah dgnmu ? Aku tidak akan pernah mencintaimu. Jadi, lupakan diriku dan menikahlah dgn org lain yg setingkat dgnmu" Tapi entah kenapa si Pemuda tidak bisa melupakannya begitu saja.

10 tahun kemudian, mereka bertemu disuatu perjamuan besar.

Wanita itu berkata, "Hei Kamu!! Apa kabar ? Sekarang aku sudah menikah lhoo... Apakah kamu tahu berapa gaji suamiku ? Rp.20 juta perbulan! Dapatkah kamu bayangkan ? Dia juga sangat cerdas"
Mata Pemuda itu berlinang air mata mendengar kata2 wanita itu, namun tetap berusaha tersenyum

Beberapa menit kemudian suami wanita itu datang. Sebelum wanita itu bisa mengatakan sesuatu lagi,
suaminya berkata :"Pak...?! Saya terkejut melihat Anda disini. Kenalkan istri saya."
Lalu dia berkata kepada istrinya, "Kenalkan Bosku, Boss masih lajang lho..
Dia mencintai seorang gadis tapi gadis itu menolaknya. Itu sebabnya dia masih belum menikah.
Malang nian gadis itu.. Bukankah sekarang tidak ada lagi orang yang mencintai seperti itu??. "
Wanita itu merasa terkejut dan malu sehingga tidak berani melihat kedalam mata si Pemuda

Kadang orang yang di sakiti dan di hina jauh akan lebih sukses dari pada yang mereka bayangkan...Setelah semua terjadi timbullah sebuah penyesalan dari dirinya ...

Senin, 28 Januari 2013

PENGORBANAN SEORANG IBU

    "Bisa saya melihat bayi saya ?!" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan.
Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya..
Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga..!!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan kurang menarik.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu, yang tak mampu menahan tangisnya.

Sang ibu tahu hidup anak lelakinya itu kurang menggembirakan. Anak lelakinya itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, "aku ini makhluk aneh."
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas.
Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain ?!" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuk anaknya.
"Saya yakin saya mampu memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter.
Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkan untuk anaknya. Beberapa bulan sudah berlalu.

Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya,"Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahir dengan cukup sempurna. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa tahun kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab,"Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu", Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, " Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orang tua lelaki itu tetap menyimpan rahasia.
Suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di pinggir jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah istrinya yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah.........

"Bahwa sang ibu tidak memiliki telinga".

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah.

"Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, bukan.. ?? "

KOPI ASIN

   Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.
Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, “Kita pulang aja yuk…?!?”.

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, “Bisa minta garam buat kopi saya?” Semua orang yang mendengar memandang ke arah si pria, aneh sekali! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya. Si gadis dengan penasaran bertanya, “Kenapa kamu bisa hobi seperti ini?”

Si pria menjawab, “Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana.”
Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca- kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, peduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya.

Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana, masa kecilnya, dan keluarganya.Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua. Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat peduli … betul-betul seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu!

Untung ada kopi asin!

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah… sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya,dan setiap saat sang putri membuat kopi untuk sang pangeran, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata, “Sayangku yang tercinta, Mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu … tentang kopi asin.

Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita!
Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan.
Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam?

Si gadis pasti menjawab, rasanya manis.

==============================================
Kadang anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukan seperti yang anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi,…

Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.

Jumat, 25 Januari 2013

GARAM DAN TELAGA

    Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu
itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua
masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya
dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan
meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Asin.. asin sekali, begitu asin nya sampai terasa Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat
tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi,

“Bagaimana rasanya?”.

“Segar.”, sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.

“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi
kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

KISAH FILSUF DAN PELAUT

    Ada seorang filsuf yang menaiki sebuah perahu kecil ke suatu tempat. Karena merasa bosan dalam perahu, kemudian dia pun mencari pelaut untuk berdiskusi.

Filsuf menanyakan kepada pelaut itu: ” Apakah Anda mengerti filosofi?

“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.

“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.

Apakah Anda mengerti matematika?” Filsuf tersebut bertanya lagi.

“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.

Filsuf itu, menggelengkan kepalanya seraya berkata: “Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika, berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”

Tiba-tiba ada ombak besar, membuat perahu tersebut terombang-ambing. Ada beberapa tempat telah kemasukan air,

Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”

Filsuf dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata: “Saya tidak bisa, cepat tolonglah saya.”

Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”

Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang lain.

HARGA KASIH SAYANG IBU

    Seorang anak yang kaya lagi sukses menjenguk ibunya yang terbaring di rumah sakit. Sudah sebulan lamanya sang ibu bergelut dengan penyakit yang nyaris merenggut nyawanya. Alhamdulillah, tepat keesokan harinya sang ibu telah diijinkan pulang oleh dokter.

 Dengan segera, si anak mengantar ibunya kembali ke rumah. Ketika sampai di rumah, dan melihat ibunya terbaring, tiba tiba si anak mengeluarkan lembaran lembaran kertas untuk diberikan kepada ibunya. Isinya adalah tagihan uang selama perawatan di rumah sakit.

1. Obat: Rp. 12.500.000

2. Kamar rumah sakit: Rp. 8.000.000

3. Uang Lelah menjenguk: Rp. 4.000.000

4. Uang Jaga malam di rumah sakit: Rp. 3.000.000

5. Uang untuk Merawat ibu selama sebulan :Rp. 5.000.000

6. Kerugian karena harus meninggalkan meeting: Rp 4.500.000

4. Bensin untuk perjalanan: Rp. 1.000.000

5. Lain lain: Rp. 10.000.000

 tak lupa, dipojok kiri bawah tertulis "Bisa dilunasi kontan atau dicicil"

 Sang ibu tersenyum kepada anak kesayangannya tersebut. Beliau lalu mengambil sebuah map dan menyerahkan kepada anaknya.

 Si anak yang tidak mau waktunya terbuang, segera meluncur meninggalkan rumah ibunya. Beberapa jam setelah itu,ponselnya berdering dan seorang kerabatnya mengabarkan kalau penyakit ibunya kambuh. Si anak terdiam tidak perduli, jadwal kerjanya masihlah sangat banyak dikantor, dan itu yang harus diutamakan, pikirnya.
Sebentar kemudian, dia teringat untuk membuka dan mengetahui isi dari sebuah map yang telah diberikan ibunya hari itu. Ternyata berisi sebuah sertifikat rumah, tanah, dan lain lain milik ibunya.
Belum sempat dia menyelesaikan membaca, tiba tiba ponselnya berdering lagi. Kali ini kerabatnya memberitahukan bahwa sang ibu telah meninggal dunia.

 Si anak masih terdiam, sampai dia melihat secarik kertas kecil yang jatuh diantara beberapa surat yang digenggamnya...
Sebuah surat terakhir dari ibunya yang berisi...

 " Terimakasih atas semua yang telah kamu berikan pada ibu, anakku sayang. Kamu punya rincian, ibupun akan demikian. Namun ibu merasa kurang bisa mengisi berapa harga yang pas untuk rincian ini.

-Untuk pembelian nutrisi  selama kamu di dalam kandungan: "gratis"

-Untuk sembilan bulan ibu mengandungmu: "gratis"

-Untuk biaya bersalin ditambah biaya kesakitan melahirkanmu : "gratis"

-Untuk setiap malam ibu menemani kamu: "gratis"

-Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu : "Gratis"

-Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendo'akanmu: "gratis"

-Untuk setiap tetes Air susu ibu: "gratis"

-Untuk biaya sekolah, makan, tempat tinggal untukmu: "gratis"

-Untuk biaya mendidikmu hingga kamu dewasa dan sukses : "gratis"

-Untuk Mengasihimu selama 30 tahun: "gratis"


Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya
Akan kamu dapati bahwa harga Kasih sayang Ibu adalah "GRATIS...!!"

Ah ibu bercanda anakku...

Ibu serahkan semua ini sebagai warisan untukmu. Maaf ibu tidak bisa memberimu lebih banyak. Maafkan ibu."

Tangis penyesalanpun akhirnya memenuhi ruangan itu...

Kamis, 24 Januari 2013

MENIPU TUHAN

    Abu Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.

Diantara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu. Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang pertama mulai bertanya,

"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?"

"Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil." jawab Abu Nawas.

"Mengapa?" kata orang pertama.

"Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan." kata Abu Nawas.

Orang pertama puas karena ia memang yakin be­gitu.

Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, orang yang menger­jakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?"

"Orang yang tidak mengerjakan keduanya." jawab Abu Nawas.

"Mengapa?" kata orang kedua.

"Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan." kata Abu Nawas. Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas.

Orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang iebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang menger­jakan dosa-dosa kecil?"

"Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar." jawab Abu Nawas.

"Mengapa?" kata orang ketiga.

"Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu." jawab Abu Nawas. Orang ketiga menerima aiasan Abu Nawas. Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.

Karena belum mengerti seorang murid Abu Nawas bertanya.

"Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?"

"Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati."

"Apakah tingkatan mata itu?" tanya murid Abu Nawas. "Anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata." jawab Abu Nawas mengandaikan.

"Apakah tingkatan otak itu?" tanya murid Abu Nawas. "Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan." jawab Abu Nawas.

"Lalu apakah tingkatan hati itu?" tanya murid Abu Nawas.

"Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang me­ngerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan KeMaha-Besaran Allah."

Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa per­tanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. la bertanya lagi.

"Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?"

"Mungkin." jawab Abu Nawas.

"Bagaimana caranya?" tanya murid Abu Nawas ingin tahu.

"Dengan merayuNya melalui pujian dan doa." kata Abu Nawas

"Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru." pinta mu­rid Abu Nawas

"Doa itu adalah : llahi lastulil firdausi ahla, wala aqwa'alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghofiruz dzanbil 'adhimi.

Sedangkan arti doa itu adalah : Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar

ARTI SEBUAH KETULUSAN

   Disuatu desa hiduplah seorang petani miskin, di gubuk tua itu ia hidup berdua bersama istrinya yg selalu setia menemaninya. suatu hari ia meminta ijin kapada istrinya untuk bertandang kerumah Guru nya, yaitu Guru yg pernah mengajarkan banyak tentang ilmu agama kepadanya.
berkatalah laki2 itu kepada istri nya
 "istriku, besok aku akan pergi kerumah tuan Guru, sudah sekian tahun aku belum pernah menjenguk nya, tolong bawakan aku oleh2 buat tuan Guru".
"kita tidak punya apa2 selain singkong ini, kalau kamu mau bawalah untuk oleh2." jawab istri nya.
Keesokan paginya sang suami berangkat dengan membawa dua pikul singkong untuk oleh2 buat sang Guru.
   Sesampainya di rumah Guru, dia memberikan oleh2 singkong itu sebagai buah tangan, mereka berbincang lama karena sudah sekian tahun tidak terdengar kabar, dan sang Guru pun ahirnya mengerti bahwa muridnya itu hidupnya belum berkecukupan.
   Setelah lama berbincang ahirnya dia meminta ijin kapada sang Guru untuk kembali pulang, kepada murid nya, sang Guru membawakan oleh2 dua ekor kambing sebagai ucapan terimakasih kepada murid nya yg telah sudi menjenguk nya dan membawakan oleh2.
Sesampai dirumah istri nya sangat senang sekali, sang suami membawakan nya dua ekor kambing.
   Hingga suatu hari terdengar tetangga yg lain yaitu sahabat nya sendiri waktu dulu sama2 menimba ilmu kepada sang Guru. Ahirnya Petani itu bercerita kepada sahabat karibnya itu bahwa kambing nya itu adalah pemberian sang Guru setelah ia bertandang kerumahnya dan membawakan oleh2 dua pikul singkong kepada sang Guru.
   Muncul dalam benak sahabatnya, hanya dengan membawa dua pikul singkong tapi sang Guru memberinya ganti dua ekor kambing..? bagaimana jika dia membawa dua ekor kambing? pasti dia akan dapat ganti dua ekor sapi.
   Keesokan harinya sahabatnya itu bertandang kerumah sang Guru dengan membawa dua ekor kambing. Sang Guru sangat senang sekali dibawakan oleh2 muridnya dua ekor kambing, setelah lama berbincang ahirnya sahabatnya itu meminta ijin pulang.
Merasa berterimakasih telah dibawakan oleh2 dua ekor kambing, sang Guru berniat membawakan oleh2 kepada mantan muridnya itu, tapi sekarang ia sudah tak punya apa2 karena kambingnya sudah diberikan kepada muridnya yg lain. teringat 2 pikul singkong pemberian muridnya yg lain tempo hari, ahirnya diberikannya 2 pikul singkong itu kepada mantan muridnya itu.

Sahabat.. jika kita melakukan sesuatu dengan tulus dan ikhlas tidak mengharap imbalan suatu apapun, yakinlah suatu saat tuhan akan membalasnya lebih dari yang kita berikan. Berikan apa yg bisa kita berikan meskipun itu kecil nilanya, karena sesuatu yg berharga belum tentu bernilai bagi orang lain, jika tidak didasari dengan ikhlas.

KATAK YANG TULI

    Pada suatu hari ada sekumpulan katak-katak kecil, yang berlomba-lomba.
Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.
Penonton berkumpul bersama  mengelilingi menara untuk menyaksikan  perlombaan dan memberikan semangat kepada para peserta…

Perlombaan pun dimulai…Secara jujur:
Tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa berhasil mencapai puncak menara.

Terdengar ada yang berkata:

“Oh, jalannya terlalu susahhhhh!!
Mereka  TIDAK AKAN BISA sampai ke puncak.”

atau:

“Tidak ada kesempatan untuk berhasil…Menaranya terlalu tinggi…!! Katak-Katak kecil mulai berjatuhan satu persatu. Kecuali mereka  yang tetap bersemangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi..
Penonton terus bersorak

“Terlalu susah..!!! Tak seekor pun yang akan berhasi..l!!!”

Lebih banyak lagi katak kecil yang lelah dan menyerah…
Tapi ada  SATU yang tetap melangkah hingga semakin tinggi dan tinggi…
Dia tak kenal menyerah kalah!
Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali  seekor katak kecil yang begitu berusaha keras dan menjadi  satu-satunya yang BERHASIL sampai KE PUNCAK!
SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seekor peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil itu mempunyai kekuatan untuk mencapai tujuan? Ternyata…Katak yang menjadi pemenang itu TULI.

Nasihat dari cerita ini adalah:
Jangan sekali kali mendengar kata orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis…
karena mereka akan mengambil sebahagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita.
Selalu ingat kata-kata bertuah yang ada.
Karena segala sesuatu yang kita dengar dan kita baca akan mempengaruhi perilaku kita! Karena itu:
Selalu tetap….POSITIVE! Dan yang terpenting:
Bersikap TULI jika ada orang mengatakan bahwa KITA tidak bisa mencapai cita-cita kita!
Selalu berpikir.. I CAN DO THIS...!!!!

HIDUP ADALAH ANUGERAH

  (YESTERDAY IS HISTORY, TOMORROW IS MISTERY, BUT TODAY IS A GIFT)

 "Kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, hari ini adalah anugerah"

    Hari kemarin.. Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan. Biarkan hari kemarin lewat, lepaskan saja.

Hari esok.. Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akan terjadi. Anda tak bisa melakukan apa2 untuk hari esok. Anda tak mungkin sedih atau ceria di hari esok. Esok belum tiba, biarkan saja...

Yang tersisa kini hanyalah hari ini. Pintu masa lalu telah tertutup, Pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri anda untuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.


Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini.

Jadi.. jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung. Pengalaman yang telah lalu biarlah berlalu, jadikan pelajaran untuk bisa berbuat lebih baik dan jangan cemaskan hari esok, tak usah berharap untuk berlari mengejar hari esok yang penuh misteri, lakukan yang terbaik untuk hari ini karena hari ini merupakan anugerah yg patut kita syukuri.

Rabu, 23 Januari 2013

PESAN DARI AYAH

    Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.

Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur
Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Selasa, 22 Januari 2013

KISAH NASRUDDIN DAN PENGGEMBALA KAMBING

   Suatu hari datang lah seorang tetangga kepada Nasruddin Hoja, ia mengeluh tentang rumah nya yg sempit sehingga ia sangat merasa bosan dan jenuh, berkata lah ia pada Nasruddin.
" wahai mullah.. aku sangat jenuh untuk tinggal dirumah, aku seperti tinggal di neraka saja, rumahku terlalu sempit untuk kami tempati berdua bersama istriku, bisa kah anda membantu saya..? kata tetangganya itu.
Sambil diam berpikir sejenak Nasruddin menjawab " kamu peliharalah dua ekor kambing dalam rumahmu, setelah seminggu, kau datanglah kemari".

Setelah mendapat jawaban dari sang mullah ahirnya tetangganya pulang untuk memelihara dua ekor kambing nya kedalam rumah.
Seminggu kemudian sang tetangga datang lagi kepada Nasruddin. " wahai mullah aku sudah pelihara dua ekor kambing dalam rumahku, mengapa aku masih merasa jenuh..?".
" kau tambah lah dengan dua ekor kambing lagi " jawab Nasruddin.
Puas dengan jawaban sang mullah, ahirnya sang tetangga pulang.

Keesokan harinya tetangganya datang lagi dengan agak sedikir marah, " wahai mullah.. aku sudah pelihara empat ekor kambing didalam rumahku, tapi aku malah merasa seperti hidup dalam neraka, rumahku tambah sempit, istriku tiap hari marah-marah ".
Sambil mengangguk-angguk Nasruddin menjawab, "kau tambah lah dua ekor lagi".

Pulang dengan sedikit kesal ahirnya tetangga nya itu memelihara dua ekor kambing lagi kedalam rumahnya, sehingga genap jumlah nya enam ekor kambing. tapi tak sampai sehari tetangganya kembali lagi kepada Nasruddin sambil marah-marah,  " wahai mullah aku sudah tak sanggup lagi untuk tinggal di rumah, sekarang aku benar-benar hidup dalam neraka, mending aku mati saja ".
" sekarang kau pulang lah, keluarkan semua kambing-kambing yg ada dalam rumahmu, " jawab Nasruddin.

Pulang lah sang tetangga dengan perasaan kesal dan kecewa, hari itu ia mengeluarkan semua kambing-kambing yg ada dalam rumahnya. keesokan harinya ia kembali lagi kepada Nasruddin.
" wahai mullah aku sangat berterimakasih padamu, aku sudah mengeluarkan kambing-kambingku, sekarang rumahku lebih luas dan istriku sudah tak marah-marah lagi, rumahku seperti surga," kata tetangganya puas.

   Nasruddin hanya tersenyum sambil berkata: "Sebenarnya yg sempit itu bukanlah rumahmu melainkan hatimu, rumahmu masih tetap seperti yg dulu, sempit nya hidup itu karena HATI tidak bisa menerima dengan lapang dada setiap apa yg ada pada diri kita. Semua apa yg telah Tuhan berikan kepada kita, jika kita pandai bersyukur maka kita tak akan merasa lebih meski sebenarnya kurang, kita akan merasa bahagia meski sebenarnya menderita, kita akan merasa tenang meski pikiran kita sebenarnya sedang kalut. dan jika kau selalu bersyukur maka syurga akan selalu bersemayam diHATI mu. itulah apa yg pernah Tuhan janjikan kepada manusia.

Minggu, 20 Januari 2013

KISAH GADIS BUTA


    Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu, yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadis itu.

Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu, ”Sayaaaang, sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.

Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”

Gadis itu menangis dan menyadari kebodohannya, betapa besar pengorbanan kekasihnya selama ini tapi kekasihnya telah pergi dengan membawa luka dihati.

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

CERITA TENTANG LILIN

    Ada empat buah lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh, suasana begitu sunyi sehingga terdengar percakapan mereka.
yang pertama berkata:
“AKU ADALAH DAMAI, namun manusia tidak bisa menjagaku, maka lebih baik aku mematikan diriku sendiri saja!!”
Demikianlah hingga sedikit demi sedikit sang lilin padam,…
yang kedua berkata:
“AKU ADALAH IMAN, sayang aku tidak berguna lagi. Manusia tidak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesei bicara tiupan angin memadamkannya. Dengan sedih giliran lilin ketiga berkata:
“AKU ADALAH CINTA.
Tak mampu lagi aku tuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci orang yang mencintainya, membenci keluarganya."
Tanpa menunggu waktu lama sang lilin kemudian padam.
tanpa terduga,..
Seorang anak masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan ia kemudian berkata :
“Ah,,apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan.”
mereka menangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu lilin keempat berkata:
“Jangan takut, jangan menangis, selama aku ada dan menyala, kita dapat menyalakan ketiga liiln lainnya. AKULAH HARAPAN.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil lilin harapan, lalu mulai menyalakan ketiga lilin lainnya.
APA YANG TIDAK AKAN PERNAH MATI HANYALAH HARAPAN YANG ADA DALAM HATI KITA….
DAN MASING-MASING KITA SEMOGA DAPAT MENJADI ALAT, SEPERTI SANG ANAK TERSEBUT, YANG DALAM SITUASI APAPUN DAPAT MENGHIDUPKAN KEMBALI IMAN, DAMAI, DAN CINTA,…DENGAN HARAPANnya…

HIDUP ITU INDAH


    Aku minta kepada Tuhan setangkai bunga segar,
Tuhan memberiku kaktus berduri ..
Aku minta kepada Tuhan hewan mungil nan cantik,
Tuhan memberiku ulat berbulu ..
Aku sedih, kecewa dan bertanya tanya ..
Betapa tidak adilnya Tuhan kepadaku.

Namun seiring dengan berjalannya waktu ..
Kaktus itu berbunga indah ..
bahkan sangat indah.
Dan ulat berbulu itu tumbuh dan berubah, menjadi kupu kupu yang amat cantik ..

Inilah jalan Alloh ..
Semua indah pada waktunya ..
Alloh tidak memberi apa yang kita inginkan,
Tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan...

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru...
Bunga selalu mekar dan mentari selalu bersinar....
Tapi ketahuilah bahwa Tuhan selalu memberi pelangi disetiap badai...
Senyum di setiap air mata.., berkah disetiap cobaan dan jawaban di setiap do'a...

Janganlah pernah menyerah....teruslah berjuang......
Hidup bukanlah satu tujuan.., melainkan perjalanan.....Nikmatilah..........
Hidup adalah tantangan....Hadapilah....
Hidup adalah anugerah....Terimalah....
Hidup adalah pertandingan....Menangkanlah.....
Hidup adalah tugas.....Selesaikanlah.....
Hidup adalah cita cita....Capailah....
Hidup adalah misteri....Singkapkanlah....
Hidup adalah kesempatan....Ambilah....
Hidup adalah lagu....Nyanyikanlah....
Hidup adalah janji.....Penuhilah....
Hidup adalah keindahan...Bersyukurlah....
Hidup adalah teka teki....Pecahkanlah....
Satu hal yang membuat kita bahagia adalah CINTA...

Dan satu hal yang membuat kita dewasa adalah MASALAH...
Dunia diciptakan untuk sebuah MASALAH...
Hadapilah sejuta MASALAH apa bila MASALAH itu bisa memberi manfaat kepada kita dan banyak orang di sekitar kita.....
Akan tetapi HINDARI satu masalah apabila masalah itu akan memberi MUDHARAT kepada kita dan orang di sekitar kita..........

TANGISAN KAUM PRIA

    Siapa bilang pria tak bisa banyak menangis?
Tahukah engkau, kaum pria sesungguhnya jauh lebih sering "menangis".
Namun mereka menyembunyikan tangisnya di dalam kekuatan akalnya.
Itulah mengapa Tuhan menyebutkan pada pria terdapat dua kali lipat akal seorang wanita. Dan itulah sebabnya mengapa tiada yang kau lihat melainkan ketegarannya.
Pria menangis karena tanggung

-jawabn ya di hadapan Tuhannya.
Ia menjadi tonggak penyangga rumah tangga.
Menjadi pengawal Tuhan bagi Ibu, saudara perempuan, istri dan anak-anaknya.

Maka tangisnya tak pernah nampak di bening matanya.
Tangis pria adalah pada keringat yang bercucuran demi menafkahi keluarganya.
Tak bisa kau lihat tangisnya pada keluh kesah di lisannya.
Pria "menangis" dalam letih dan lelahnya menjaga keluarganya dari kelaparan.

Tak dapat kau dengar tangisnya pada omelan-omelan di bibirnya.
Pria "menangis" dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari, deras hujan dan dinginnnya angin malam.

Tak nampak tangisnya pada peristiwa-peris tiwa kecil dan sepele.
Pria "menangis" dalam kemarahannya jika kehormatan diri dan keluarganya digugat.

Pria "menangis" dengan sigap bangunnya di kegelapan dini hari.
Pria "menangis" dengan bercucuran peluhnya dalam menjemput rezeki.
Pria "menangis" dengan menjaga dan melindungi orang tua, anak dan istri.
Pria "menangis" dengan tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya.

Namun... Pria pun sungguh-sungguh menangis dengan air matanya.
Di kesendiriannya menyadari tanggung jawabnya yang besar di hadapan Tuhannya.
Sungguh tiada yang pantas mendampingi pria berharga seperti itu melainkan wanita mulia yang memahami nilainya.

Indah jalan menuju Tuhan jika wanita shalehah yang menjadi teman.
Pandanglah Ayah ...
Pandanglah Suami ...
Sesungguhnya syurga Allah di dalam keridha'an mereka...

Sabtu, 19 Januari 2013

BELAJAR DARI 3 GELAS AIR

    Seorang wanita yang baru saja menikah, datang pada ibunya dan mengeluh soal tingkah laku suaminya. Setelah pesta pernikahan, baru ia tahu karakter asli sang suami.
Wanita muda itu berharap orang tuanya ikut menyalahkan suaminya. Namun betapa kagetnya dia karena ternyata ibunya diam saja. bahkan sang ibu kemudian malah masuk ke dapur, sementara putrinya terus bercerita dan mengikutinya. sang ibu lalu memasak air. Setelah sekian lama, air mendidih.
Sang ibu menuangkan air panas mendidih itu ke dalam tiga gelas yang telah disiapkan. Di gelas pertama ia masukkan telur, di gelas kedua, ia masukkan wortel dan di gelas ketiga, ia masukkan kopi.
Setelah menunggu beberapa saat, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi, dan hasilnya: Wortel yang keras menjadi lunak, telur yang mudah pecah menjadi keras, dan kopi menghasilkan aroma yang harum.
Lalu sang ibu menjelaskan: "Nak... masalah dalam hidup itu bagaikan air mendidih". Namun, bagaimana sikap kitalah yang akan menentukan dampak-nya".
Kita bisa menjadi:
1. Lembek seperti wortel.
2. Mengeras seperti telur.
3. Atau harum seperti kopi.
Jadi, wortel dan telur bukan mempengaruhi air... Mereka malah berubah oleh air. Sementara kopi malah mengubah air, membuatnya menjadi harum.
Dalam tiap masalah, selalu tersimpan mutiara yang berharga.
Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja, tapi apakah kita dapat tetap bersyukur saat kita ditimpa masalah?
Hari ini kita belajar ada tiga reaksi orang saat masalah datang.
* Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh, dan mengasihani diri sendiri.
* Ada yang mengeras, marah, dan menyalahkan pihak lain.
* Ada juga yang justru semakin harum, menjadi semakin kuat dan bijaksana.
Itu semua tergantung pilihan kita sendiri bagaimana kita merespon sebuah permasalahan.

Ada kalanya tuhan sengaja menunda pertolongannya agar kita bisa belajar percaya dan setia kepada-Nya, karena tak ada masalah yg tidak bisa Tuhan selesaikan.

KISAH TENTANG CINTA

    Alkisah diceritakan di suatu Pulau kecil hiduplah sekelompok Benda Abstrak: ada CINTA, KESEDIHAN, KECANTIKAN, KEKAYAAN, KEGEMBIRAAN dan sebagainya". Mereka hidup berdampingan dengan Baik.
Suatu hari dikabarkan badai menghempas pulau itu, air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau tersebut. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.
CINTA sangat kebingungan sebab Ia tidak bisa berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.
Sementara itu air makin naik membasahi kaki CINTA. Tak lama kemudian CINTA melihat KEKAYAAN sedang mengayuh perahunya.

"Kekayaan...!! Kekayaan...!!
Tolong aku . . , !!" teriak Cinta.
"Aduh...!! Maaf, Cinta...!!"
kata Kekayaan,"perahuku telah penuh dengan Harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini Tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di Perahuku ini."
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh Perahunya pergi.

CINTA sedih sekali, kemudian dilihatnya KEGEMBIRAAN lewat dengan Perahunya.

"Kegembiraan...!! Tolong aku...!!", Teriak Cinta.

Namun karena Kegembiraan terlalu Gembira sehingga ia tak mendengar Teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.
Tak lama kemudian lewatlah KECANTIKAN.

"Kecantikan...!! Bawalah aku bersamamu....!!", teriak Cinta.

"Waduh, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori Perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.

CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah KESEDIHAN.

"Ooh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," pinta sang CINTA.

"Maaf, Cinta. Aku sedang Sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh Perahunya.
CINTA putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.
Pada saat itu datanglah seorang Kakek-kakek dengan perahunya yg kecil menolong sang CINTA.
"Ayo naik lah ke Perahuku...!!" kata sang Kakek
CINTA cepat2 naik ke Perahu itu tepat sebelum air menenggelam kan nya. CINTA sangat heran siapa Kakek tua yg menolong nya itu?.

Dialah Sang WAKTU...... Ya.. hanya Sang WAKTU yg bisa memahami arti cinta yg begiitu besar...

MENIKMATI HIDUP


    Seorang pengusaha kaya dari ibukota keheranan melihat seorang nelayan sedang berbaring bermalas-malasan di tepi pantai di samping perahunya sambil menikmati rokoknya.

“Mengapa engkau tidak melaut dan mencari ikan?” Tanya sang Pengusaha.

“Karena ikan yang aku dapat sudah cukup menghasilkan uang untuk hidup hari ini.” Jawab si nelayan.

“Mengapa engkau tidak berusaha menangkap ikan lebih banyak lagi, melebihi yang engkau perlukan?” Tanya si pengusaha kaya.

“Untuk apa?” Nelayan itu balik bertanya.

“Dengan begitu engkau akan dapat menghasilkan uang lebih banyak,” jawabnya. “Dengan uang itu engkau bisa membeli perahu motor, sehingga engkau dapat melaut lebih jauh lagi dan menangkap ikan lebih banyak lagi. Kemudian engkau akan
memiliki lebih banyak uang untuk membeli jaring nilon dan itu akan menghasilkan ikan yg lebih banyak lagi. Nah, segera uangmu akan cukup untuk membeli sebuah kapal . . bahkan mungkin beberapa kapal. Dengan begitu engkau akan punya
banyak tabungan, lalu engkau akan menjadi kaya seperti aku.”

“Setelah itu aku harus berbuat apa?” Tanya si nelayan.

“Setelah uangmu banyak engkau bisa beristirahat, bersantai-santai, menikmati hidup lah,” kata si pengusaha.

“Menurutmu, apa yg aku nikmati saat ini?” jawab si nelayan puas sambil mengepulkan asap rokoknya. Mendengar jawaban itu sang usahawan hanya bisa memijit mijit kepalanya yg sebenarnya tidak pening..

Dari cerita tesebut bukanlah suatu pembenaran atas sikap statis, atau tidak mempunyai keinginan untuk maju, akan tetapi kita bisa menangkap pesan moral yg disampaikan yaitu tentang ukuran kepuasan untuk setiap individu tentunya berbeda. Yg terpenting untuk mencari kepuasan dalam menikmati hidup tidak diukur dari segi materi yg dimiliki. Bisa menjaga dan mengukur kemampuan untuk menikmai hidup yg seutuhnya adalah sikap atau prilaku yg lebih bijaksana.

ANAK DAN BURUNG GAGAK

    Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-binc­ang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK..!!!” Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah..!!!.”
Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan.
Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya.­ Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
” Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

KEBOHONGAN SEORANG IBU

Ibu itu adalah pembohong..????
Seorang ibu dlm hidupnya membuat kebohongan :
1. Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kpd anaknya dan berkata, "Cepatlah makan nak, ibu tidak lapar."
2. Waktu makan, Ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, "ibu tidak suka, makanlah nak..!!"
3. Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yg sakit, Ia berkata,
"Istirahatlah nak, ibu masih belum ngantuk.."
4. Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, "Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang."
5. Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, "Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana."
Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis, ibu tidak apa apa." Ini adalah kebohongan terakhir yg dibuat seorang ibu. Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan­ diri kita tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan­ dirinya.
Semoga semua anak di dunia ini bisa menghargai setiap kebohongan seorang ibu... karena beliaulah seperti malaikat nyata yg dikirim TUHAN untuk menjaga kita.